Viva la Femme??!

Itu dia slogan kaum feminis: ‘Hidup kaum wanita!’ Gerakan feminisme ini bangkit dari ‘kesadaran’ untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan yang tertindas dan tereksploitasi. Yup, hebat betul ‘prestasi’ yang berhasil diciptakan oleh ideologi kapitalis sekuler di negara-negara berkembang, khususnya di Dunia Islam! Yaitu…kenyataan bahwa kaum perempuan cenderung sering mengalami marjinalisasi, bahkan tak jarang dikorbankan. Di dalam negeri, angka kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2005 mencapai 20.391 kasus, perempuan pengidap HIV/AIDS pada Desember 2004 mencapai 1.393 orang, 500.000 perempuan dari Eropa Timur, negara-negara eks-Uni Sovyet, Asia tenggara, Afrika menjadi pelacur di Eropa Barat dan Amerika setiap tahunnya. Layaknya barang, perempuan kini menjadi komoditi perdagangan dunia, yang memberikan kontribusi keuntungan sebesar 4 Milyar Dollar per tahun. Di bidang pendidikan, perempuan Indonesia yang bisa lulus perguruan tinggi kurang dari 2,67%. Sedihnya lagi, syariat Islam terlanjur dituding sebagai penghambat kemajuan kaum wanita.

          Realitas inilah yang kemudian membangkitkan gerakan feminisme. Salah satu pelopor gerakan ini adalah Mary Wollstonecraft (Inggris) yang menulis A Vindication of Rights of Women (1972). Ide-ide yang diusung gerakan ini kebanyakan berkutat pada kesetaraan gender, yang seringkali di-kambing hitam-kan sebagai penyebab dari segala keterpurukan perempuan sebagai ‘jenis kelamin kedua’ (second sex). Kaum feminis selama ini dianggap sebagai penyelamat dalam mengatasi semua permasalahan akibat ketidak-adilan jender (gender inequality), seperti kesamaan hak pilih dalam pemilu, hak jabatan/profesi, hak kursi dalam parlemen, hak kebebasan dalam rumah tangga, dll.

          Benarkah feminisme itu penyelamat? Benarkah dunia tak pernah memihak kaum perempuan? Hm…pertama-tama kita harus memahami bagaimana logika berpikir kaum feminis tersebut. Begini…jika memang perbedaan seks tidak menyebabkan perbedaan perilaku dan peran, lantas logika apa yang kita gunakan untuk menjawab mengapa di dunia ini harus ada laki-laki dan perempuan? Padahal…konsep kesetaraan jender itu sendiri serba ngga jelas! Ada yang mengartikan kesetaraan jender sebagai persamaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan secara mutlak tanpa batasan apapun, ada juga yang mengartikan persamaan hak dan kewajiban (belum jelas yang macam mana pula hak-kewajiban itu), kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan (belum jelas pula artinya), juga seringkali diartikan bahwa laki-perempuan mempunyai hak yang sama dalam aktualisasi diri, namun sesuai dengan kodratnya masing-masing…lho…bukannya justru kodrat itu yang mengimplikasikan perbedaan perilaku dan peran antara laki-perempuan??! Kalau memang menuntut persamaan, mengapa masih pula memperjuangkan hak-hak cuti hamil, cuti haidh, dll…Non sense!

          Lalu apa kata Islam? Konsep relasi antara laki-perempuan dalam Islam telah jelas. Kedua jenis manusia ini adalah hamba Allah yang mengemban tugas untuk menjalankan aturanNya dalam kehidupan publik maupun domestik. Perbedaan tugas dan wewenang antara keduanya tak ada hubungannya dengan sub-ordinasi atawa keterjajahan salah satu pihak. Pembagian ini justru melahirkan harmonisasi peranan dalam masyarakat Islam. Setiap tugas diemban sebagai bentuk ketaatan kepadaNya akan menjadi ladang pahala bagi masing-masing.

          Pengaturan sempurna tentang relasi ini ada yang terkait kehidupan publik tentang peran masing-masing di masyarakat. Ada pula yang mengatur peran dalam rumah tangga. Keyakinan terhadap kebesaranNya memastikan penerimaan sepenuh hati terhadap seperangkat aturanNya. So..kita ngga perlu konsep emasipasi atau – apalah namanya – yang berkaitan dengan kesetaraan jender, yang tak pernah lepas dari akar ideologinya. Ngga mungkin banget kaum feminis itu memandang segala sesuatu berdasarkan ‘ego-keperempuanan’nya saja, tapi pasti ada cara pandang ‘ideologis’ di balik itu, yaitu…cara pandang kaum Barat kapitalis yang penuh dengan ide-ide sekuler, liberal en materialistis. Be careful girls!

All Move at Once !

Sering terjebak macet? Kemacetan lalu-lintas adalah salah satu dari banyak masalah yang dianggap ‘hal biasa’ di negeri ini. Bosen? Kesel? Marah? Sabar…, tenang dulu pemirsa, mari kita merenungi sejenak kemacetan ini.

Seorang insinyur elektris, William Beaty, pernah menemukan hal menarik di tengah kebosanannya menunggu macet. Bill berfantasi bahwa si traffic jam itu adalah fluida mengalir, dengan mobil-mobil sebagai molekul air raksasanya. Simak fenomena dasar berikut.

Ketika sedang berkendara, seringkali tiba-tiba kendaraan melambat, seperti merangkak…dan kita dengan sabar menunggu puluhan menit…untuk melihat kecelakaan yang mungkin menyebabkan kemacetan tersebut. Kemudian mobil-mobil di depanmu melesat maju memacu kecepatan. Kemacetan berakhir…tapi ngga ada kecelakaan, ngga ada mobil polisi, ngga ada apa-apa. WHAT WAS THAT?!! Invisible accident?! Kemacetan lalu-lintas tanpa sebab yang jelas? Di kaca spion terlihat antrian panjang ratusan mobil di belakangmu yang masih terjebak macet. Terkadang malah kemacetan yang besar hanya disebabkan sebuah mobil yang berhenti karena si sopir ingin melihat ’sesuatu yang menarik’. Tapi kenapa?

Sederhana saja, walaupun kecelakaan itu sudah diatasi, semua mobil terkunci karena jika mereka mau bergerak, ALL have to move at once. Semua harus bergerak bersamaan. Tapi ngga pernah terjadi, setiap pengendara menunggu mobil di depannya bergerak. Kita ngga bisa maju karena ngga ada ruangnya, kalau dipaksakan pasti nabrak mobil depan. Semua berpikir hal yang sama, sehingga none of us can move.

Lalu ketika mobil di depan maju, kita tetap tidak bisa langsung tancap gas, tetapi menunggu dulu sebentar sampai jarak aman. Meskipun mobil-mobil kemudian bergerak maju, tetapi gelombang fluida-nya bergerak mundur. Kemacetan itu seperti obyek padat yang ujung depannya menguap, dan ujung belakangnya tumbuh seperti kristal. Beberapa mobil maju, tapi lebih banyak yang datang mengantri di barisan belakang.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk ngajarin fisika, tapi untuk beranalogi. Saat ini, zaman semakin maju, betul? Namun yang terjadi adalah, umat Islam semakin mundur, terjadi kemacetan. Yup, macet! Kemacetan berpikir, kemacetan bertindak, hingga akhirnya yang terjadi adalah kemacetan peradaban Islam. Semua (yang muslim) kesel kan? Marah juga kan? dan telah banyak waktu yang terbuang percuma. Semua diam dan menunggu. Menunggu keajaiban terjadi dan kondisi berputar 1800 seperti masa kegemilangan khilafah dulu.

Padahal apa yang menyebabkan kemacetan ini? Banyak faktor memang. Kemacetan-kemacetan di segala sektor saling tumpang tindih hingga membentuk rangkaian kemacetan raksasa yang…walah… Tapi seperti halnya invisible accident, semua kemacetan itu abstrak, tak terlihat, hingga yang berperanan besar ialah kemunduran berpikir dan inferioritas umat Islam di tengah warga dunia. Kita ngerasa ngga punya kekuatan.

Lalu kenapa? Kenapa semua tidak bergerak maju secara bersamaan? Mengapa saling menunggu yang lain untuk bergerak maju? Takut menabrak? Ini kondisi abstrak, remember? ngga ada mobil di depan kita. Yang ada hanyalah rasa takut, rasa malas itu sendiri, serta sugesti diri yang bersifat melemahkan, sehingga ditekan sedikit saja sudah mundur. Apalagi sekarang, tekanan dari pihak yang membenci Islam itu tidak sedikit, banyak, kita diberondong serangan dari berbagai sisi.

Oleh karena itu, mari semua bergerak bersama. Betapapun kecilnya peran kita (tapi jangan mikirin yang kecil-kecil aja ya), semua sangat berarti. Jangan pernah merasa tak berarti. Hei, kita satu tubuh bukan? Sesuai kapasitas dan fungsi masing-masing, mari berkiprah dan memberikan sumbangsih bagi kemajuan Islam. Tumbuhkan kecintaan pada Islam dan keyakinan akan janji Allah SWT. Setiap individu umat adalah batubata penyusun konstruksi khilafah. Jangan mudah tergoda sama ’sesuatu yang menarik’ hingga perjalanan kita menepi. One little stop may cause a great jam. Tetaplah maju beriringan pada jalan yang lurus. Let’s all move at once!!

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!